Riyan Permana Putra Ajak Legislator Muda Kampus Kembalikan Kejayaan Politisi Minang

Bukittinggi – Suasana di Student Center Universitas Islam Negeri (UIN) Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi terasa hangat pada Minggu pagi, 5 Oktober 2025. Di tengah deretan kursi yang dipenuhi mahasiswa berpakaian rapi, satu sosok tampil dengan semangat yang khas: Dr (c). Riyan Permana Putra, S.H., M.H.

Ia bukan sekadar pemateri. Di mata mahasiswa, Riyan adalah cerminan generasi muda Minangkabau yang tak hanya cakap di dunia hukum, tapi juga berani bersuara tentang idealisme, kepemimpinan, dan arah politik bangsa. Kehadirannya dalam kegiatan Training Legislatif II (TL II) yang digelar Senat Mahasiswa (SEMA) UIN Bukittinggi disambut antusias.

Dengan tema besar “Optimalisasi Peran dan Kapasitas Legislator sebagai Agen Perubahan untuk Mewujudkan Kepemimpinan Kolektif, Demokrasi Partisipatif, dan Berintegritas,” kegiatan ini menjadi ajang refleksi bagi para legislator muda kampus se-Sumatera Barat.

Di hadapan para peserta, Riyan berbicara bukan dengan bahasa teori yang kaku, tetapi dengan semangat sejarah dan kebanggaan budaya. Ia mengajak para mahasiswa untuk menyalakan kembali api kepemimpinan dan idealisme yang dulu pernah berkobar dari ranah Minang.

“Minangkabau pernah melahirkan tokoh-tokoh besar yang menjadi lokomotif perubahan nasional. Kini saatnya generasi muda kampus menyalakan kembali semangat itu dengan idealisme dan keberanian moral,” ujarnya penuh penekanan.

 

Riyan kemudian mengutip kata-kata Dr. Mohammad Hatta, yang pernah menyatakan bahwa “Pendidikan adalah alat yang paling ampuh untuk memerdekakan bangsa.” Ia menegaskan bahwa ruang-ruang kampus harus kembali menjadi tempat melahirkan pemimpin dengan nalar kritis dan hati yang bersih.

Tak berhenti di situ, ia juga menyinggung pesan Sutan Sjahrir, diplomat dan jurnalis besar asal Minangkabau: “Hidup yang tidak dipertaruhkan tidak akan pernah dimenangkan.” Kutipan itu ia jadikan pengingat bahwa politik sejati menuntut keberanian moral, bukan sekadar ambisi kekuasaan.

“Politik tanpa akhlak hanya melahirkan kekuasaan yang kosong makna. Sebaliknya, politik yang berlandaskan moral dan ilmu akan menumbuhkan keadilan dan kemaslahatan,” ujar Riyan menutup pemaparannya.

Para peserta tampak menyimak dengan penuh perhatian. Beberapa mencatat, sebagian lain mengangguk, seolah tersadar bahwa perjuangan mahasiswa bukan hanya soal orasi dan rapat paripurna, tapi juga tentang menjaga nilai-nilai luhur dan tanggung jawab moral.

Melalui forum ini, Riyan berharap lahir generasi legislator muda kampus yang bukan hanya kritis dan progresif, tetapi juga berintegritas serta berjiwa Minang yang sejati — berani bersuara, berpihak pada rakyat, dan berakar pada nilai adat serta agama.

Sebagai praktisi hukum dan akademisi muda, Riyan Permana Putra memang telah dikenal sering turun langsung memberi motivasi kepada mahasiswa di berbagai kampus di Sumatera Barat. Baginya, advokasi bukan sekadar urusan hukum, tetapi juga perjuangan membangun kesadaran dan karakter bangsa.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *