“Visi Bukittinggi Gemilang” dan “Bukittinggi Kota Istimewa” Lahir dari Obrolan Riyan Permana Putra dan Sultan Fazbir Jauh Sebelum Pilkada 2024

Bukittinggi – Di sebuah malam yang tenang pada sebuah Cafe di Bukik Apik, Bukittinggi, jauh sebelum hiruk-pikuk Pilkada 2024 memanas, Dr (c). Riyan Permana Putra, SH, MH dan Sultan Fazbir duduk bertiga bersama Parta anak Datuak Palang Gagah. Percakapan mereka bukan sekadar basa-basi, melainkan diskusi serius tentang arah masa depan kota yang pernah menjadi jantung perjuangan bangsa ini. Dari sana, lahirlah dua gagasan besar: Bukittinggi Gemilang dan Bukittinggi Kota Istimewa.

“Waktu itu kami berbicara panjang tentang bagaimana Bukittinggi punya sejarah dan kultur yang tidak dimiliki kota lain. Dari obrolan itulah muncul ide tentang ‘Visi Bukittinggi Gemilang’, sebuah visi tentang kejayaan masa depan, dan ‘Istimewa’, yang menekankan pengakuan khusus terhadap identitas kota ini,” kenang Riyan.

Jejak Sejarah, Napas Masa Depan

Bagi Riyan, dua gagasan itu bukan sekadar ambisi politik musiman. Ia lahir dari rasa kagum sekaligus tanggung jawab terhadap warisan Bukittinggi. Kota yang pernah menjadi Ibu Kota Darurat Republik, pusat pendidikan, sekaligus rumah budaya Minangkabau.

“Bukittinggi sudah gemilang sejak dulu, tinggal bagaimana kita mengembalikannya ke panggung utama. Dan soal istimewa, itu pengakuan yang seharusnya diberikan oleh negara kepada kota yang punya peran penting dalam sejarah kebangsaan,” ujarnya.

Dari Obrolan ke Arah Kebijakan

Kini, ketika Pilkada 2024 menjadi sorotan, gagasan Bukittinggi Gemilang dan Bukittinggi Kota Istimewa kembali mencuat. Namun Riyan menegaskan, ide-ide itu tidak lahir dari kebutuhan politik sesaat. “Itu mimpi lama. Saya dan Sultan Fazbir sudah membicarakannya jauh sebelum Pilkada 2024,” jelasnya.

Menurut Riyan, “Gemilang” adalah simbol cita-cita kota yang maju, sejahtera, dan terbuka. Sementara “Istimewa” adalah kerangka hukum dan kebijakan agar Bukittinggi punya posisi strategis di tingkat nasional. “Kalau hanya slogan, ia akan hilang. Tapi kalau jadi regulasi, ia akan bertahan,” katanya.

Sebuah Harapan

Bagi sebagian orang, obrolan malam itu mungkin hanya perbincangan santai para sahabat. Namun bagi Riyan, itu adalah titik awal lahirnya sebuah cita-cita besar. “Bukittinggi terlalu berharga untuk dibiarkan berjalan biasa-biasa saja. Kota ini sudah gemilang sejak dulu, dan ia memang pantas istimewa,” tegasnya.

Kini, gagasan itu sudah bergema luas, diperbincangkan di ruang-ruang publik, dan menyulut harapan baru bahwa Bukittinggi bisa menemukan kembali kejayaannya—bukan hanya sebagai kota sejarah, tapi juga kota masa depan.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *